Wednesday, 12 November 2008

Bersama KETIK

Baru hitungan bulan sich.....
Baru-baru ini Q menemukan sesosok pelita untuk remaja di negeri ini, khususnya di Kota Solo (yang sekarang ini punya wajah baru dengan SOLO "The Spirit of Java"). Baru berjalan sekitar satu jam yang lalu (sewaktu pertama kali ikut nimbrung), Q sudah mulai merasakan kesatuan yang utuh di dalamnya... KegoKilan itu sesekali muncul di antara beribu pemikiran 'handal' mereka. Itulah secuil gambaran yang ter-'Frame' berbentuk kliping yang mempunyai nama Komunitas KETIK. Berikut ini sejarahnya,

KETIK adalah kependekan dari Komunitas Penggema Jurnalistik Surakarta. Komunitas ini berdiri pada hari Ahad tanggal 17 Juni 2007 di Solo. KETIK berawal dari "obrolan tak sengaja" siswa MAPK dan SMA Al Islam 1 yang melahirkan gagasan untuk membentuk suatu komunitas jurnalis pelajar di kota Solo. Tindak lanjut dari gagasan itu adalah dengan mengundang lewat lisan teman-teman dari beberapa SMU di Solo yang interest dengan jurnalistik dalam suatu forum semi resmi. Hadir pada pertemuan tersebut 12 orang delegasi dari 5 sekolah (MAPK, SMA Al Islam 1, SMAN 2, SMAN 3 dan SMAN 7). Dimana pada akhirnya mereka sepakat untuk mendeklarasikan suatu komunitas jurnalis pelajar yang diberi nama KETIK.

UAN FORMALITAS BELAKA???

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sangat menggelitik, namun kini hal itulah yang sedang hangat diperbincangkan dalam dunia pendidikan. UAN memang dicanangkan pemerintah sebagai evaluasi belajar tahap akhir sekaligus sebagai penentu kelulusan bagi siswa yang mengikutinya. Segala jerih payah belajar selama-selama bertahun-tahun harus dipertaruhkan dalam UAN. Hasilnya tentu saja merupakan jawaban apakah siswa tersebut bersungguh-sungguh menuntut ilmu atau tidak.


Namun fakta berbicara lain, banyak siswa yang semasa sekolah tidak pernah menuntut ilmu dangan sungguh atau bahkan termasuk dalam jajaran anak-anak nakal bisa lulus UAN dengan nilai yang fantastis. Sedangkan siswa berprestasi gemilang yang selalu menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh justru ada yang gagal lulus UAN.

Selama ini pemerintah telah berusaha sebaik mungkin dalam menyelenggarakan UAN. Standar kelulusan terus dinaikan tiap tahunnya, kualitas soalpun terus ditingkatkan, begitu pula dengan sistem pelaksanaan yang semakin diperketat. Berbagai macam upaya telah diusahakan agar kualitas pendidikan Indonesia dapat setara dengan negara lain. pemerintah ingin mencetak lulusan yang berkulitas tinggi, baik dalam bidang ilmu sosial maupun sains.


Namun impian itu dirasa harus disimpan dalam-dalam karena terjadi begitu banyak kecurangan dalam pelaksanaan UAN. Mulai dari bocornya soal UAN, beredarnya kunci jawaban, hingga isu suap-menyuap terus saja mewarnai jalannya UAN setiap tahunnya. Bahkan kemarin ada juga beberapa kota yang mengijinkan sekolah-sekolah negeri untuk memberi kunci jawaban kepada para peserta UAN. Berbagai macam cara kotor terus ditempuh untuk meraih angka kelulusan setinggi-tingginya.


Ironis memang, ditengah gencar-gencarnya pemerintah menghapus budaya korupsi, dunia pendidikan justru membudayakannya kepada para penerus bangsa. Dapatkah kita bayangkan bagaimana nasib bangsa kita kelak jika dari bangku sekolah saja para generasi penerus bangsa sudah diajarkan untuk berpolitik uang. Asal punya uang nilai UAN tinggi dapat diraih dengan mudah. Bagi sebagian orang mungkin sebuah kata lulus jauh lebih penting dari pada seberapa banyak ilmu yang ditimba. tidak perlu sekolah dengan sungguh-sungguh, tidak perlu belajar giat toh bisa mendapat ijasah juga.


UAN seakan tidak ada artinya lagi. UAN bukanlah lagi penentu apakah siswa tersebut pantas lulus atau tidak. Semua fakta itu telah memberi jawaban pada kita apakah UAN merupakan evaluasi belajar tahap akhir atau sekedar formalitas untuk mendapat ijasah.


bley_wah

DI BAWAH BELENGGU KURIKULUM

Kurikulum pendidikan Indonesia rupanya terus ditakdirkan berada dalam dunia yang berbeda. Dunia ideal untuk memperbaiki mutu pendidikan dan tataran praksis yang justru menghasilkan kenyataan sebaliknya. Dari sudut pandang pemerintah, kurikulum sering dianggap seperti ‘mantra baru’, sementara publik justru menganggapnya sebagai petaka baru. Kurikulum sering dinilai tidak hanya menjadi momok, tetapi juga mengganggu dunia pendidikan. Pendidikan kita seperti disandera oleh sistem kurikulum yang tak kunjung menghasilkan apa yang ada dalam cita-cita ideal pendidikan di Indonesia. Seperti juga sekarang telah muncul Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ia merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004. Kurikulum yang sesungguhnya belum sepenuhnya dilaksanakan. Bahkan, di beberapa sekolah masih bertahan dengan kurikulum 1994.

Seperti yang sudah-sudah, munculnya kurikulum baru itu juga menghadirkan kontroversi. Ada yang optimistis dan juga sebaliknya. Yang optimistis berkeyakinan KTSP akan mampu mengatasi mandulnya kreativitas guru karena kurikulum itu dibuat oleh sekolah, oleh para guru. Sekolahlah sebagai penentu pendidikan, bukan pemerintah pusat. Kini sekolah dan komite sekolah harus bermitra mengembangkan kurikulum sendiri. Guru, dalam kurikulum baru itu, benar-benar digerakkan agar menjadi manusia profesional. Ia dipaksa untuk meninggalkan cara-cara konservatif dan menggantinya dengan cara kerja yang kreatif. Selama ini para guru lebih banyak menampakkan wajahnya sebagai perpanjangan wajah birokrasi. Ia terlampau patuh pada apa yang disebut petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan.

Sementara itu, yang pesimistis mengolok-olok KTSP sebagai (K)urikulum (T)idak (S)iap (P)akai karena lahir terlalu prematur. Sumber kelemahannya bukan berada di mana-mana, melainkan ada pada guru sendiri. Seberapa banyak guru yang kreatif dan siap dalam spirit perubahan zaman yang disyaratkan KTSP? Bukankah pendidikan keguruan di negeri ini tidak membekali guru sebagai penyusun kurikulum?

Selain persoalan guru, prasyarat lain seperti gedung dan komitmen pemerintah juga akan menjadi kendala yang serius. Kita khawatir kurikulum baru itu pun akan sama nasibnya dengan kurikulum-kurikulum lainnya. (Sekadar catatan kurikulum yang pernah berlaku: Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, kurikulum 2004). Ironisnya lagi, meski KTSP benar-benar memberikan otonomi kepada sekolah untuk mengembangkan pendidikan, ujung dari seluruh proses itu juga harus lewat ujian negara. Ujian negara akan membuat guru sibuk bagaimana agar seluruh siswa lulus,pada akhirnya lupa mengembangkan kreatifitas di sekolah.

Kita khawatir niat suci pemerintah untuk memberikan otonomi seluas-luasnya kepada sekolah dan guru, justru menjadi belenggu. Sebab, pemerintah sendiri belum menyiapkan guru-guru untuk menyusun dan melaksanakan kurikulum berbasis sekolah tersebut. Kita khawatir KTSP tidak menjadi jawaban yang tepat atas carut marutnya pendidikan Indonesia.

faisal

SAMA RATA

Banyak hal yang sering terlupakan sebagai suatu bangsa yang majemuk. Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika semua warga dari Sabang sampai Merauke semestinya berhak mendapat perlakuan yang sama, mendapatkan fasilitas yang sama dan sama-sama berhak untuk maju dan berkembang. Tapi yang sekarang ini menjadi pertanyaan adalah apakah sekarang ini pemerintah sudah memberikan fasilitas ataupun sarana prasarana yang dapat menunjang peningkatan taraf hidup terutama pendidikan.
Realita yang kita lihat sekarang ini adalah pemerintah hanya memperhatikan wilayah-wilayah yang ada di depan mata saja. Di kota-kota besar seperti Jakarta banyak sekali sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas memadai bahkan yang bertaraf internasional, akan tetapi semua itu memerlukan biaya yang menguras kantong. Kita mengetahui bahwa tidak semua warga yang tinggal di Jakarta berpenghasilan tinggi. Di sana sering kita jumpai anak-anak yang seharusnya menikmati betapa menyenangkannya belajar di sekolah tapi mereka justru meminta-minta di sepanjang lampu merah. Mereka yang seharusnya duduk manis di bangku sekolah akhirnya harus bekerja untuk mendapatkan sesuap nasi, untuk makan saja susah apalagi untuk membayar sekolah.

Gambaran singkat diatas hanya sebagian kecil dari fenomena yang terjadi di Indonesia. Jika mencoba meninjau lebih jauh lagi ke daerah-daerah yang ada di wilayah-wilayah terpencil seperti pedalaman Papua, Sumatera, atupun Kalimantan sedikit sekali sekolah yang berdiri. Diperparah lagi dengan kurangnya tenaga pengajar. Jarang sekali tenaga pengajar yang mau ditugaskan di daerah-daerah terpencil. Karena apa? Salah satu alasannya adalah karena fasilitas yang diberikan oleh pemerintah sangat kurang. Padahal sering kita jumpai di media cetak ataupun elektronik bahwa pemerintah menaikkan anggaran untuk pendidikan. Tapi mana buktinya? Inilah pertanyaan yang jawabanya hanya bisa dijawab oleh mereka-mereka yang bertanggung jawab atas masalah ini.

Prinsip sama rata dalam memberikan perhatian bagi seluruh wilayah di Indonesia musti diterapkan. Prioritas memang penting. Namun, bukankah potensi-potensi itu bisa muncul di mana pun? Tinggal seberapa jeli kita menggali. Menyikapi ini semua, kita sebagai generasi muda penerus bangsa hanya bisa mendoakan dan berharap agar para pemimpin kita segera melakukan perubahan-perubahan berarti bagi negeri ini.

fatimah az zahra

LULUS/ TIDAK LULUS

Pagi itu, tepat sepuluh hari setelah pengumuman kelulusan. Kubaca kembali deretan angka hasil ujian nasionalku kemarin. Awalnya, aku tak peduli dengan nilaiku yang pas-pasan. Tak banyak gunanya, pikirku. Namun, ketika kulihat beribu-ribu siswa yang tidak lulus ujian, barulah aku berpikir. Bagi mereka, nilai 0, 01 sangatlah penting. Tak bisa kubayangkan, bagaimana hancurnya hati mereka saat mengetahui nilai mereka tidak memenuhi standar kelulusan. Yah, itulah peristiwa yang selalu menjadi momok dalam dunia pendidikan Indonesia.

Walhasil, hanya sedikit perguruan tinggi yang mau menerima mereka yang tidak lulus, jika tidak mau dikatakan nihil. Itu pun harus main sogok sana sini. Seolah tak ada yang peduli dengan tingginya cita-cita mereka. Padahal, beberapa dari temanku yang tidak lulus adalah orang-orang yang sangat gigih dalam belajar. Berjuta-juta biaya yang telah dikeluarkan seakan sia-sia. Usaha maksimal mereka seperti gerimis di tengah padang pasir. Perjuangan selama 3 tahun menyerah pada angka 4, 25!
Memang tak ada yang bisa disalahkan. Semua yang telah ditetapkan pasti berdasarkan pertimbangan. Tapi, adakah pihak yang benar-benar mau menjamin kelanjutan pendidikan mereka? Tidak adakah cara lain untuk mengukur ‘kecerdasan’ seorang siswa selain dengan UAN? Masihkah juga UAN layak dipertahankan untuk tahun-tahun ke depan jika kasus kecurangan dalam penyelenggaraannya tak terhitung lagi jumlahnya? Mulai dari jual beli soal, contekan via SMS sampai katrol mengkatrol nilai. Bertanyalah pada rumput yang bergoyang!

Di lain waktu. Aku merenung, memikirkan fasilitas yang selama ini diberikan sekolah kepada siswanya. Sudah maksimal kah?? Perpustakaan misalnya, baru sedikit sekolah yang mampu memberikan buku bacaan lengkap sesuai kebutuhan siswa. Laborat-laborat pun hanya dimiliki segelintir sekolah saja. Entah karena minimnya anggaran, besarnya pengeluaran untuk hal lain, atau jangan-jangan… Ah, hanya pengelola sekolah saja yang tahu.

Namun, kita tak boleh menyerah pada keadaan, kita harus tetap berusaha. Lihat saja orang-orang sukses dan berhasil di kehidupannya. Tak sedikit dari mereka yang mengalami kegagalan berkali-kali. Namun, pada akhirnya mereka dapat menuai sukses. Karena ternyata, kegigihan dapat mengalahkan aral yang merintangi. Keinginan yang kuat mampu mengubah segalanya. Jangan takut gagal, jangan takut mencoba. Belajar dari kegagalan, belajar untuk maju!!

Fe_aM

NOKTAH HITAM

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor utama keberhasilan pembangunan suatu negara. Karena itu investasi di bidang pendidikan sangat penting. Pendidikan memiliki peranan dalam menentukan kualitas manusia, lewat pendidikan yang diperoleh manusia diharapkan dapat membangun kualitas hidupnya, yang tentu saja mempengaruhi perkembangan bangsanya.

Hingga saat ini, pendidikan Indonesia belum bisa menghembuskan kabar baik. Berbagai upaya untuk mengatasi persoalan akses dan kualitas telah dilakukan, baik oleh pemerintah, swasta, bahkan lembaga donor internasional dan masyarakat pun turun tangan. Akan tetapi belum membuahkan hasil menggembirakan.
Ironisnya, usaha tersebut seolah masih setengah hati dilakoni. Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah malah dijadikan ‘barang dagangan’ yang dijual di berbagai kampanye. Sekolah gratis misalnya. Bila ditelisik, pada kenyataannya tak ada sekolah yang gratis. Dalam satu tahun para orang tua murid harus mengeluarkan minimal 1 juta rupiah untuk biaya buku paket, buku tulis, seragam, dan tetek bengek lainnya.

Kebobrokan ini diperparah lagi dengan minimnya anggaran APBD yang dialokasikan ke dunia pendidikan. Propinsi Sulawesi Barat contohnya, dari total APBD 2007, Rp 356, 6 miliar, Diknas mendapat jatah 9,8 M dari 28 M yang diusulkan. Itupun harus dibagi untuk belanja aparat, perjalanan dinas, makan minum, honor pegawai, dan program pendidikan masyarakat. Merujuk pada amanat UU SIKDIKNAS, alokasi pendidikan minimal 20 % dari total APBD. Bisa dibayangkan, betapa setengah hatinya pemerintah dalam urusan pendidikan?
Faktor ekonomi dan biaya sekolah mahal telah memicu angka anak usia sekolah yang tidak bisa mengenyam pendidikan terus meningkat, pun yang putus sekolah dan anak-anak yang bunuh diri karena tercekik tingginya SPP, buku, seragam, dan iuran lainnya.

Pembangunan sektor pendidikan dianggap hanya membuang anggaran tanpa jelas manfaatnya, tak heran jika alokasi anggaran pendidikan biasanya sisa dari anggaran-anggaran lainnya. Bukti ilmiah di lapangan justru menunjukkan fungsi vital pendidikan dalam memosisikan manusia sebagai kekuatan utama bagi kemajuan berbagai sektor pembangunan bangsa. Karenanya, pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi masa depan.

Pada masa globalisasi ini persaingan antarbangsa semakin ketat. Kita bangsa Indonesia dituntut untuk menyiapkan SDM berkualitas yang memiliki keunggulan kompetitif. Dari mana lagi kita peroleh kalau bukan dari pendidikan? Maka, segera hapus noktah-noktah hitam pada paras pendidikan kita !
hant

JUJUR MUJUR

Hatiku berbunga-bunga bak di musim semi saat pertama kali duduk di bangku SMA. Seneeeng banget rasanya. Siapa sih yang nyangka seorang 'aku' anak deso yang jauh dari kota bisa sekolah hingga jenjang SMA. Asal kau tahu saja, dusunku itu pelosok bangeet, dekat alas lagi! Kebayang nggak sih gimana perjuangan orang-orang sono untuk bisa sekolah? Bisa dihitung jari kok yang melanjutkan sekolah hingga SMA, apalagi yang kuliah. Jumlah remaja di dusunku yang melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi cuma ada tiga dan SMA cuma enam, termasuk aku di dalamnya. Sedangkan yang lainnya bekerja and kalo cewek kebanyakkan buru-buru dinikahkan alias nikah dini. Sungguh tragis dan mengenaskan!
Alasan paling ampuh yang sering mereka lontarkan sangat mudah ditebak, yaitu faktor ekonomi. Bagi mereka, sekolah-sekolah di kota seperti Salatiga dan Ambarawa rasanya mahal buaangeeeet. Pikir mereka, wong untuk makan aja sudah susah apalagi sekolah. Kalaupun memang ada sekolah yang murah, itupun harus pasrah dengan keadaan. Seperti kondisi bangunan yang menyedihkan plus fasilitas yang nggak memadai sama sekali. Kaciaaaan banget sih tempat kelahiranku, hiks…T.T

Bahkan, tragisnya lagi, kebanyakan orang-orang di dusunku berpikir: Kanggo opo sekolah dhuwur-dhuwur? Uwis larang, Wong ya rak dadi opo-opo nak uwis lulus! Nopo meneh wong wadon, sepenting ngerti bumbon pawon, besuk bakalan katut bojo! Huuh… nyebelin banget kan? Untung aku bisa sekolah di Kota Solo ini. Alhamdulillah ya Robb (jadi terharu…ed.).
Andai saja sekolah di negara tercintaku ini bisa gratis seperti di negara-negara maju sana. Nggak usah pusing tujuh keliling deh untuk memikirkan bayaran uang pangkal, uang gedung, infaq sekolah, SPP, buku dan iuran-iuran sekolah yang lainnya. Tapi bagaimana mungkin bisa gratis kalo aparat pemerintahnya saja gak mau jujur dan doyan nilep uang rakyat. Enak di mereka, nggak enak di kita ! Sebenarnya apa sih susahnya jujur ? Apa nggak pada nyadar kali ya kalo jujur itu bawa mujur.
Haaah, sampai kapan Indonesiaku tercinta akan seperti ini terus? Gimana mau jadi negara terhormat di dunia, kalo di sini semuanya masih serba terbalik. Orang yang ‘bersih’ dianggap sok alim, giliran yang doyan makan uang haram justru dipuja-puja. Maling ayam dikeroyok sampai babak belur, eh para koruptor malah lenggang kangkung plesir kesana-kemari. Tahu nggak semua ini gara-gara apa? Semua ini gara-gara UANG ! Uang bisa bikin orang jadi supergila. Aku jadi teringat lagunya Bang Rhoma Irama : Gara-gara uang orang bisa menjadi gila, gara-gara uang orang bisa menjadi edan. Sungguh terlalu ! Padahal kalo dipikir-pikir, bukankah uang itu hanya lembaran keras yang akan menjadi abu jika dibakar ? (kurang kerjaan banget ya bakarin duit^^)

Nah, mulai sekarang biasakanlah untuk jujur. Dari diri kita sendiri dulu aja deh. Kalo semakin banyak orang yang jujur bukan tak mungkin akan ada sekolah gratis. Orang-orang di dusunku pun pasti jadi semangat buat cari ilmu. Dan kalo orang se Indonesia jujur semua bisa jadi sembako dan BBM juga gratis. Tapi mungkin nggak ya ?

shenjie

High Contrast


Judul : "High Contrast"
Model :
1. Muh. Husein Yusuf
2. Syarif Hidayatullah
3. Ikhsanuddin Wahid B.
Deskripsi : “Sampai kapan pelajar kita akan selalu seperti ini ?”
seorang pelajar dari keluarga miskin yang begitu semangatnya menuntut ilmu walau harus disertai dengan kucuran keringat, serta merelakan waktu belajar setiap harinya untuk berusaha menyambung biaya sekolahnya, sedangkan di sisi lain siswa dari keluarga yang serba berkecukupan tidak mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk sarana pembelajaran namun hanya untuk kesenangan semata

Sunday, 2 November 2008

Cuti Blogging 2 bulan

Wuah….()… mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Setelah semalam nglembur dg pekerjaan rumah yang menumpuk (hingga Q sndri lupa sudah dikerjakan atau belum he..he.). Semenjak duduk di kelas XII ni aktifitas lebih banyak di Sekolah, coba bayangin (bayangin aja lo…) dari jam 07.00 WIB (kalau jam se daerah WIB belum ganti sich, krn Q sendiri heran dengan jam yang ada di sekitar kita, G’ da yang cocok ‘N tepat, semuanya molor kayak jam karet aja ^^ ) sampai jam 16.30 WIB Q harus bermesra-mesra dengan pelajaran yang diUANkan tahun depan di sekolah.. yapz.. maklum dah mulai nyadar dikit gitu klo bntar lg mau ngadepin pertempuran yang mencengankan itu. Sebenarnya mau dan pengen banget sich mbahas UAN yang penuh menuai pro dan kontra, tapi karena keterbatasan waktu ya.. mungkin laen waktu.


Sudah kangen rupanya Q, walaupun masih banyak tugas-tugas yang terus manggil-manggil..he..he.. langsung saja tanpa pikir panjang lagi Q mulai menengok rumah yang sudah mulai tak terawat ini, walaupun sudah semaksimal mungkin dijenguk oleh pemiliknya tapi tidak kunjung nyaman juga. Terlihat dari traffic pengunjung yang menurun, tampaknya sudah mulai bosan dengan blog yang berpenghuni tapi ditinggal mlu-lu ini..^.^…